Ayo... siapa yang nggak pernah merasakan cemburu.... Bohong kali yah kalau sama sekali nggak pernah merasakan ini. Kalau cemburunya masalah cinta... yang harus dilihat, proporsinya kali ya... seperti syair dari teman nih...
Ketika hati telah mengaku cinta. Maka akan dihadapkan. Kepada ayat-ayat ujian dan penafsiran. Untuk membuktikan semuanya...(Amru Kholid)
Yang pasti, cemburu bisa mendatangkan cinta. Tergantung manusia dalam memaknai dan menyikapinya. O iya... Nggak mau berbicara mengenai cemburu yang seperti itu disini yaa... Tapi maunya lebih membicarakan rasa cemburu yang lain. Asyik juga kok punya rasa cemburu yang lain begini...
Pada awalnya, aku cemburu, ketika mengetahui adanya sistem EU dinegara tempatku tinggal sekarang. Para pendatang dari negara uni eropa banyak yang mendapat kesempatan kerja tanpa visa. dan mereka yang datang, tidak semua bisa berbahasa Inggris dengan baik. weleh... bayangin.... hari gini, bule nggak bisa bahasa Inggris??? Sedang kami yang dari Indonesia, deuh... harus menunjukkan kualitas diri dulu, baru diberi kesempatan.. Mudah-mudahan cemburuku kali ini nggak mendatangkan sesuatu yang merugi.. Karena, setelah mendapat kesempatan kerja yang lumayan, Nggak cemburu-cemburu banget kok... jahat yaa...^_^...
Yang berikutnya... rasa cemburuku pada sahabat-sahabat ngaji... yang punya nilai 'wah' dimataku. 'Wah ', karena mereka selalu mandahului aku dalam setiap langkah kebaikan. Kalau ingat, rasanya cemburuku yang ini seperti apa yang dirasakan Ummar bin Khattab ra pada Abu Bakar Siddiq, sahabat beliau sendiri. Aku cemburu juga pada sahabatku sendiri. Cemburu pada hapalan Quran mereka yang selalu bertambah kian harinya, hingga ada yang sudah sampai 3 juz dalam dua bulan saja... subhanallah... Cemburu pada rajinnya mereka untuk qiyamullail.... Cemburu pada kehanifan yang dipunyai.... juga cemburu pada sifat mereka yang tawadhu'...
Yah, gimana nggak cemburu... melihat kesalihan sahabat-sahabatku ini, membuatku ingin seperti mereka. Selalu dan selalu ada keinginan untuk memperbaiki diri sekaligus menjadi salihah. Buat para sahabatku... terima kasih yaa.... cemburuku karena cinta kok... hehehe.
Tetap minta doa pastinya..... Semoga rasa cemburuku ini bisa membawa diriku pada cinta yang sebenarnya. Cinta pada Allah yang menjadikanku seperti sekarang. Yang memberiku segalanya. Hingga hari ini, detik ini kenikmatan yang sudah diberikan sangatlah luar biasa indahnya.
Ya Allah... perkenankanku untuk tidak membuat-Mu cemburu..... padaku... pada 'dunia' yang tidak sengaja pernah kucintai....
Tuesday, 8 July 2008
Bidang Keahlian...
Yah, saya mendapati pertanyaan tentang Bidang keahlian saya ketika beberapa hari lalu di invite seorang teman untuk bergabung dalam satu komunitas mailing list. Entah apa yang membuat saya termenung lama dengan permintaan moderator mailing list untuk mengisi database anggota. Tujuannya bagus, untuk sebuah keteraturan.
Kembali saya tekan database untuk melihat siapa sajakah yang sudah mengisinya. Subhanallah... ternyata mereka yang mengisinya, masing-masing memang punya kapabilitas di bidangnya. Ada yang ahli di bidang fisika, kesehatan, management, ilmu membuat pesawat dan lain sebagainya. Setidaknya saya menjadi tau, bahwa rekan yang hadir dalam mailing list yang saya ikuti ini benar-benar diikuti orang yang 'berisi'.
Jujur, ada satu kekhawatiran dari dalam hati saya. Mungkinkah saya tidak punya bidang keahlian yang bisa dimasukkan dalam pertanyaan itu ? Ataukah, memang kecenderungan hati saya yang sejak awal tidak ingin meletakkannya dalam database, sebagai bentuk dari rasa takut riya' ????
Mengingat lagi, alur kehidupan sejak saya lulus SMA, cita-cita yang selalu berubah dan kenyataan hidup yang saya alami membuat semakin sadar bagaimana kualitas saya. Kuliah di Jurusan Teknik Industri dan sekarang bekerja sebagai *********** di sebuah Rumah Sakit besar, memang masih terkait ilmunya. Meski, banyak sekali yang harus saya pelajari lagi didunia kerja karena kurangnya pengalaman dalam bekerja.
Tapi, kembali lagi pada topik, apa sebenarnya yang menjadi bidang keahlian saya ?
So far.... rasanya saya memang benar-benar tidak punya bidang keahlian.
Biar hanya Allah saja yang tau bidang keahlian saya... Karena hanya Allah yang tau, apa yang menjadi bidang di kehidupan saya...
Dan akhir dari kisah ini, saya memang benar-benar tidak mengisi database itu. Biarlah kosong selamanya.... biarlah semua berjalan apa adanya tanpa melihat status keahlian di belakang nama besar keluarga saya sekalipun... Kalaulah saya diamanahi satu tugas dari rekan-rekan yang hadir di mailing list ini... Biarlah saya menjadi pekerja lapangan yang nantinya nama saya tidak perlu ditulis dalam daftar kepanitiaan. Mudah-mudahan Allah meridhoi pilihan saya...
Kembali saya tekan database untuk melihat siapa sajakah yang sudah mengisinya. Subhanallah... ternyata mereka yang mengisinya, masing-masing memang punya kapabilitas di bidangnya. Ada yang ahli di bidang fisika, kesehatan, management, ilmu membuat pesawat dan lain sebagainya. Setidaknya saya menjadi tau, bahwa rekan yang hadir dalam mailing list yang saya ikuti ini benar-benar diikuti orang yang 'berisi'.
Jujur, ada satu kekhawatiran dari dalam hati saya. Mungkinkah saya tidak punya bidang keahlian yang bisa dimasukkan dalam pertanyaan itu ? Ataukah, memang kecenderungan hati saya yang sejak awal tidak ingin meletakkannya dalam database, sebagai bentuk dari rasa takut riya' ????
Mengingat lagi, alur kehidupan sejak saya lulus SMA, cita-cita yang selalu berubah dan kenyataan hidup yang saya alami membuat semakin sadar bagaimana kualitas saya. Kuliah di Jurusan Teknik Industri dan sekarang bekerja sebagai *********** di sebuah Rumah Sakit besar, memang masih terkait ilmunya. Meski, banyak sekali yang harus saya pelajari lagi didunia kerja karena kurangnya pengalaman dalam bekerja.
Tapi, kembali lagi pada topik, apa sebenarnya yang menjadi bidang keahlian saya ?
So far.... rasanya saya memang benar-benar tidak punya bidang keahlian.
Biar hanya Allah saja yang tau bidang keahlian saya... Karena hanya Allah yang tau, apa yang menjadi bidang di kehidupan saya...
Dan akhir dari kisah ini, saya memang benar-benar tidak mengisi database itu. Biarlah kosong selamanya.... biarlah semua berjalan apa adanya tanpa melihat status keahlian di belakang nama besar keluarga saya sekalipun... Kalaulah saya diamanahi satu tugas dari rekan-rekan yang hadir di mailing list ini... Biarlah saya menjadi pekerja lapangan yang nantinya nama saya tidak perlu ditulis dalam daftar kepanitiaan. Mudah-mudahan Allah meridhoi pilihan saya...
Subscribe to:
Posts (Atom)
